Pada tahun 1930'an yang mana kita masih berada dimasa penjajahan belanda, di era itu pula negara kita berada pada suatu masa yang bisa dikatakan tertindas, dan rasanya tidak memiliki kekuatan untuk namanya suatu kebangkitan, bahkan mungkin untuk mengatakan mau bangkit saja sudah bisa mengandung suatu unsur yang membahayakan yaitu unsur "ditangkap dan diasingkan"
Pada saat itu, ada seseorang yang cukup berpendidikan dan cukup mampu untuk membeli Handycam 8mm yang saat itu adalah merk Bell & Howell FILMO Double run eigth model 134-G Cine Camera, dan seseorang itu karena berpengetahuan yang cukup, dan memiliki talenta seni yang cukup tinggi, maka seseorang ini pula telah mengambil gambar atau film pada masanya, dan yang menarik adalah, gambar yang dihasilkan bisa dikatakan sangat bagus, dan gambar yang diambil juga sangat baik dan karena usia film tersebut dan sementara waktu yang lalu, benda yang kami rasa cukup mempunyai arti sejarah itu sempat tidak terawat dan sempat terancam rusak, film yang disebut film celluloid 8mm tersebut melewati hari-hari tiada arti, tetapi pada suatu saat film itu berhasil kami beli dan kami pelihara kembali dan kami preservasi ulang, tapi karena keterbatasan peralatan dan dana untuk itu semua, maka kami kurang maksimal dalam preservasi tersebut, tetapi sementara ini, dengan kemampuan kami yang juga terbatas, kami mencoba melihat dan mendiskripsikan cerita apakah yang ada dalam film celluloid 8mm tersebut.kalau melihat sekilas cerita dibawah ini yang mana mengisahkan cerita kondisi dan situasi Jogja tempo dulu tahun sekitar 1930an, pasti kita akan sekilas memikirkan apa yang terjadi pada saat itu adalah suatu yang biasa saja, atau masih alami juga sudah seharusnya tapi bila sesuatu yang saat itu terjadi terdapat kejadian adalah orang penting, maka anda akan berpikir beda, karena orang-orang tersebut sudah telah tiada dan tidak bisa kita ulang kondisi itu dengan mudah, dan yang harus kita ingat juga, pada saat itu mempunyai uang untuk makan saja sudah bagus, dan untuk bisa mengkondisikan hidup layak sebagai manusia saja harus bersyukur, karena saat itu adalah jaman penjajahan, maka yang memiliki peralatan kamera dan Handycam atau bisa dikata modern juga sangat terbatas, dan pastilah orang yang pandai dan cukup kaya pada saat itu. itulah yang membuat sedikit perbedaan film dokumenter pada jaman itu dengan jaman sekarang, mungkin sekarang yang memiliki handycam dewasa ini bisa dikata hampir setiap penduduk dikota diseluruh indonesia, dan pada jaman itu juga belum ada namanya televisi, dan tentunya belum ada acara "dunia dalam berita" yang meliput acara-acara disekitar kita. dan tentunya pada waktu itu juga belum ada yang namanya broadcasting dan pada masa itu pemberitaan maksimum hanya melalui Koran. Koranpun juga belum banyak yang beredar, karenanya film 8mm footage yang akan saya ceritakan dibawah ini adalah juga cerita potongan-potongan dari kejadian saat itu dan film tersebut berhasil kami lihat dan kami ceritakan apa yang ada didalamnya.


kemudian rombongan tersebut meninjau suatu home industry pengrajin perak yang mana kemungkinan besar berada di Kota Gedhe, dan setelah beberapa saat melihat sekilas tentang pengrajin, kemudian mereka meninggalkan tempat tersebut dan kembali menuju Gedung Agung yang mana dahulu masih belum dibatasi dengan pagar tinggi seperti sekarang ini.tetapi pada saat itu sudah terlihat Patung Gupala yang sampai sekarang juga masih berada tetap di tempatnya. Sewaktu Kereta Garudayaksa sampai didepan Gedung Agung, banyak sekali para Pejabat belanda sudah menunggu di teras gedung Agung yang pada saat itu terlihat dihiasi banyak lampu dop yang dirangkai panjang dan pada bagian tengahnya terlihat huruf besar " W " yang kemungkinan besar adalah singkatan dari sebuah nama yaitu Wilhelmina. setelah kereta Kencana Garudayaksa tersebut berhenti didepan teras Gedung Agung, turunlan Sri Sultan Hamengkubuwono VIII yang kemudian diiringi oleh para abdi dalem yang membawa peralatan nginang yang terbuat dari bahan kuningan.tapi karena film tersebut masih hitam putih, maka kami tidak bisa membedakan warna dan bahannya secara detil. setelah Sri Sultan Hamengkubuwono VIII masuk kedalam Gedung Agung, terlihat juga para rombongan pejabat belanda yang mengendarai mobil-mobil kuno dihalaman Gedung Agung.
Pada saat itu juga ada suatu peristiwa yang terjadi pada suatu lapangan yang mana kami belum bisa memastikan kondisi dimanakah itu berada, karena lapangan itu sangat luas dan pada saat itu banyak sekali yang melihat acara layaknya seperti latihan perang. tetapi yang latihan pada saat itu berseragam tentara belanda. mereka latihan melewati sebuah papan yang layaknya seperti menyeberangi sebuah sungai, dan melompati sebuah pagar dan memanjat sebuah lemari yang layaknya seperti latihan melewati berbagai macam rintangan yang ada. setelah itu terlihat juga sekilas para prajurit tersebut berlatih perang dengan menunggang kuda. dan juga ada yang jatuh dalam latihan tersebut.acara tersebut ditutup dengan tari-tarian dari berbagai kota, yang bilamana dilihat dari pakaian yang mereka kenakan, maka bisa disimpulkan pakaian tradisional yang dikenakan oleh para penari tersebut berasal dari daerah antara lain Madura dan Bugis.
Film Celluloid 8mm kondisi baik
Durasi 10 menit
Hitam putih tanpa suara
Kami berharap bisa menemukan kolektor yang berani membeli koleksi tersebut dengan harga yang sangat tinggi, mengingat koleksi tersebut tidak banyak dimiliki oleh kolektor lain, dikarenakan juga keterbatasan jumlah film yang di produksi saat itu. maka secara otomatis suatu saat akan menjadi suatu koleksi yang sangat langka.
